|
|
|
|
Selamat Datang di Blog Web http://abdagiga.bravehost.com
Dalam Blog Web ini saya ingin sekali mengupas permasalahan-permasalahan yang sedang terjadi di dalam masyarakat dewasa ini. Tapi jangan salah mengerti. Di Blog Web ini hanya mengupas masalah-masalah yang terjadi di masyarakat yang berhubungan dengan remaja.
Blog ini dapat di isi oleh siapa saya, yang penting jangan masalah Sara dan hal-hal yang berbau sara ataupun melanggar norma-norma hukum yang berlaku di wilayah hukum republik indonesia tercinta ini.
Saudara Netter dapat mengisi Blog web ini dengan cerita-cerita ataupun permasalahan yang sedang terjadi baik masalah pribadi, keluarga, teman ataupun permasalahan di dalam masyarakat sekitar.
Terima kasih netter yang terhormat,
abdagiga@yahoo.com / http://www.mediabisnis.com
Sebut aja Asih Lestari yang baru aja lulus SMA. Sementara cowoknya udah kerja. Enggak ada niatan lain dari pacarnya, selain buru-buru kepengen ‘mengikat’ Mira dengan pernikahan. Duh, kontan aja Mira bingung banget. Di usia muda dan masih bau kencur, udah diajak merit.
Apa kata temen-temen ? Terus, apakah dia juga udah siap mengarungi bahtera rumah tangga plus menjadi ibu muda ? Pertanyaan itu makin membumbung, jika cowoknya terus mendesaknya. So, apa dong yang harus dilakukannya ? Menerima atau menolak ?
Kabarnya, pernikahan dini, tuh lagi ngetrend dijalanin pasangan muda. Banyak anak muda menempuh caranya dengan beragam alasan. Misalnya, emang udah merasa sama-sama cocok dan takut pasangannya pindah ke lain hati, terus ngambil keputusan kawin. Alasan lain, nyokap bokap kepengen ngejodohin kita buru-buru dengan pilihan mereka karena suatu ‘misi’ yang dianggapnya untung. Atau pasangan terpaksa menikah dini gara-gara MBA (merit by incident).
Apapun penyebabnya, kalau udah berani mengikatkan diri pada orang lain, berarti kitapun harus berani berkorban. Korban waktu, kesenangan, bahkan perasaan. Bayangin ! Di saat kita mau janjian nonton
Tiap keputusan
Ketika kita memutuskan untuk menjalin hubungan serius dalam bentuk pernikahan, maka sebenarnya kita harus siap menerima konsekuensi di belakang hari. Misalnya, meski tidak ada aturan tertulis kalau kamu kudu bangun lebih awal dari suami kamu, atau dilarang nonton bareng mantan, aturan itu wajib ditaati. Sikap istri yang harusnya melayani suami dan mendampingi dalam keadaa susah dan senang, harus terpantek dan kudu dijalani sebagai mestinya.
Nah, konsekuensi seperti inilah, yang harus dipertimbangkan betul. Bahwa dengan kesadaran penuh, jika kita menyatakan siap menikah di usia belia berarti kita pun siap mengikatkan diri dan menerima segala kebaikan dan keburukannya. Emang sih, kalau belajar untuk memahaminya setelah berumah tangga, udah telat banget. Soalnya ikatan ini enggak bisa main-main lagi. Tak boleh ada kata putus atau pisah yang layak diucapkan selama masa pacaran dulu. Tapi enggak perlu juga mengganggap ini hal yang sangat serius. Santai aja dan nikmatin perjalanan hidup kamu tapi dalam batas-batas yang wajar lho ! Pokoknya apapun yang dilakukan harus didasari rasa tanggung jawab terhadap pasangannya. (bersambung ke II)
bravenet.com